TALQIN DZIKIR DALAM TARIKAT
A.
Pengertian
talqin dan dzikir secara umum
a.
Pengrtian
Talqin
Perkataan talqin berasal dari fi’il madhi (kata kerja masa lalu)
laqina yang berarti tealah mencerdaskan, telah memberi pemahaman, atau
telah menjadikannya masuk akal. Bentuk akar kata bendanya atau telah masdarnya
adalah perkataan laqonan atau laqonah yang berarti akal,cerdas
atau faham. Melalui proses tafsir
perubahan bentuk kata dengan penambahan awalan, akhiran, atau sisipan,
terbektulah kata kerja laqqona-yulaqqinu-talqin yang secara kebahaasaan
berarti menyampaikan suatu pesan atau nasihat tertentu secara lisan agar dapat
difahami dengan baik oleh pedengarnya.
Selain itu kata kerja laqqona-yulaqqinu-talqin juga berarti
membimbing atau menasihati seperti membimbing seseorang mengucapkan dua kalimat
syahadat agar ia menyimak dengan baik kemudian dapat menirukannya dengan benar.
[1]
b.
Pengertian
dzikir
Secara bahasa dzikir berasal dari ungkapan bahasa Arab dzikr
yang berarti mengingat, menyebut, dan mengenang. Adapunn yang dimaksud dzikir
dalam amaliah agama mengingat atau menyebut nama Allah. Lawan dzikr adalah
ghoflah, yakni lupa atau lalai dari mengingat atau menyebut nama Allah.
Ada dua pengertian dzikir, secara umum dan secara khusus. Secara umum dzikir
berarti beriman kepada Allah dengan
menyatakan dua kalimat syahadat dan melaksanakan ajaran –Nya dengan baik.
Itulah berdzikir kepada Allah. Dengan pengertian dzikir secara umum ini, orang
telah menyatakan dua kallimat syahadat dinamakan ahl al-dzikr (ahli
dzikir), yakni kelompok orang dzikir
kepada Allah. Sebaliknya, orang tidak beriman atau beriman tapi tidak
menjalankan ajaran agama bukan ahl al-dzikr, tetapi alh al ghoflah(al
ghoflah, kelompok orang yang lupa atau lalai ) kepada Allah.
Adapun secara khusus, dzikir mengandung dua pengertian. Pertama, dzikir berati menginagt atau mnyebut
nama Allah dengan melafatkan kalimat tayyibat, yakni kalimat yang indah, atau ungkapan dzikir
tertentu. Kedua, dzikir berarti merasakan kehadiran Allah didalam sanubari
kita. Dzikir yang pertama dinamakan dzikir lisan dzikir yang kedua dinamakan
dzikir kolbu. Pertama, dzikir lisan yaitu dzikir dengan meyucapkan lafat-lafat
dzikir tertentu yang dinamakan kaalimat tabiyyat, baik dengan suara keras maupun dengan suara
pelan yang hanya dapat didengar oleh orang yang berdzkir itu sendiri, dzikir lisan biasanya dilaukan
setelah sholat wajib, baik sendiri-sendiri atau berjamaah. Kedua, dzikir kalbu
yang disebut juga dzikir al-khafi, yaitu dzikir ang tersembunyi dalam
hati, tanpa suara atau kata-kata. Dikir ini hanya menemuhi kalbu dengan
kesadaran Allah dekat dengan kita dan merasakan kehadiran-Nya seirama dengan
detak jantung serta keluar masuknyapernafasan.[2]
B.
Pengertian
talqin dzikir dalam tariqoh
Sebagai persiapan untuk dapat
berdzikir dengan baik, qalbu dan lathifah-lathifah yang menjadi sensornya harus
mengalami tune up atau initiation lebih dulu. Semua perangkat itu
harus menjalani proses aktifasi lebih dulu. Itulah yang disebut dengan talqin
dzikir. Berasal dari
kata laqqana (membelajarkan), maka talqiynâ (pembelajaran).
Talqin Dzikir = Pembelajaran Dzikir: Proses
ruhaniyah. Menanamkan bibit dzikir ke dalam qalbu murid. Menghubungkan
qalbu murid dengan qalbu mursyid agar masuk dalam pantauannya. Dilakukan
oleh wali mursyid (wali pembimbing) yang:
a.
Taqwa
b.
Qalbunya dawâm (ajeg) dalam dzikrullah,
c.
Kuat dalam tawhid,
d.
Tercahayai oleh nur ilahi.
e.
Talqin Dzikir dapat mursyid lakukan melalui wakil talqin.
C.
Sejarah
sebagai dasar hukum talqin dzikir
Tentang baiat seseorang pernah diceritakan oleh Yusuf Al-Kurani da
teman-temannya dengan sanat yang sah bahwa Sayyidina Ali RA bertanya kepada
Nabi Muhammad SAW:
“Ya Rosullullah, tunjukan aku jalan yang sependek-pandeknya kepada
Allah SWT dan semudah-mudahnya dan yang paling utama dapat ditempuh oleh
hambanya pada sisi Allah SWT.
Maka bersabdalah Rosulullah SAW,” hendaknya kamu melakukan
zikirullah yang kekal (ziir dawam) dan ucpan yang paling utama yang pernah aku
lakukan nabi-nabi sebelum aku, yaitu lailaaha illallah. Jika ditimbang tuju pelatah langit dan bumi
sebagai satu timbangan, dan kalimat laillaha illallah dalam satu timbangan yang lain, maka akan
lebih berat kalimat lailaaha illallah.
Kemudian Rosulullah SAW
berkata “ wahai Ali , tidak akan datang kiamat jika diatas bumi ini masih ada
orang yang berkata laillaha illallah “
Sayyidinah Ali
berkata “ Bagaiman acara aku berzikir ya Rosul?’’
Rosulullah menjawab “pejamkanlah mata kamu dengarkan aku mengucap
tiga kali, kemudian engkau mengucap tiga kali
pula”
Sayyidinah Ali pun mendengarkanya, maka berkatalah Rosulullah SAW,”
laaillaha illallah” kalimat itu
diucakan tiga kali sambil memejamkan matanya dan suara dikeraskan. Sedangkan
Ali RA mendengarkan. Kemudian Ali RA mengucapkannya” laaillaha illallah” sebanyak tiga kali dan Rosullulah
medengarkannya.
Adapun talqin Nabi Muhammad
SAW. kepada para sahabatnya secara jama’ah sebagaimana diriwayatkan dari Sidad
bin Aus RA ”Ketika kami (para sahabat) berada dihadapan Nabi SAW, beliau
bertanya: "Adakah diantara kalian orang asing ”(maksud beliau adalah ahli
kitab), aku menjawab: ”Tidak!” Maka beliau menyuruh menutup pintu, lalu
berkata:”Angkatlah tangan-tangan kalian dan ucapkanlah La ilaaha illallah!
”Kemudian Beliau melanjutkan :”Alhamdulillah, ya Allah sesungguhnya Engkau
mengutusku dengan kalimat ini (La ilaaha illallah), Engkau perintahkan aku
dengannya dan Engkau janjikan aku surga karenanya. Dan Engkau sungguh tidak
akan mengingkari janji. ” Lalu beliau berkata: ”Ingat! Berbahagialah kalian,
karena sesungguhnya Allah telah mengampuni kalian.
D.
Dzikir tanpa talqin dalam tariqoh
Dalam melaksanakan
dzikir tarikah seorang harus mempunyai sanad (ikatan) yang mutasil (sambung)
dari guru mursyidnya yang terus bersambung dengan Rosulullah SAW. Penisbatan
(pengakuan adanya hubungan) seorang murid kepada guru mursyidnya hanya bisa
melalui talqin dan ta’lim dari seorang guru yang sudah mempunyai izin untuk
memberikan ijazah yang sah yang bersandar sampai guru mursyid shohibuth
tarikat, yang terus bersambung kepada Rosulullah SAW. Karena dzikir tanpa talqin
tidak akan berfaedah sempurna kecuali melalui talqin dan izin dari seorang guru
mursyid. Bahkan mayoritas ulama tarikat menjadiakan talqin dzikir ini sebagai
salah satu syarat dalam bertarikat.
Komentar
Posting Komentar