PERKEMBANGAN SAINS DI ERA ISLAM KONTEMPORER
Makalah ini untuk memenuhi tugas
setruktur kelompok perkuliahan mata kuliah Ilmu
Alamiah Dasar
Oleh bapak: Dodo widarda. S,Ag.
M.Hum
![]() |
oleh
:
1.
Abdul
Wasik 1141040160
2.
Firman Abdullah 1141040169
3.
Hilyatul Husnah 1141040171
4.
Magfirah M. Marjdun 1141040174
5.
Rori’ah siti zainab 1141040183
JURUSAN TASAWUF PSIKOTERAPI
FAKULTAS USHULUDDIN
UIN SUNAN GUNUNG DJATI
2014 M/ 1436 H
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrohim. Dengan
menyebut asma Allah yang
MahaPengasih lagi Maha Penyayang
yang telah memberikan Rahmat, Taufik, Hidayah, serta Inayah-NYA sehingga kita semua
dapat membedakan antara yang haq dan yang batil. Dan telah menganugerahkan Akal Fikiran yang sempurna kepada kita semua,
untuk mengetahui ayat-ayat Allah dan segala ilmu pengetahuan yang di berikan
kepada kita. Allahumma solli ala
sayyidina Muhammad wa’la ali sayyidina Muhammad. Sholawat dan salam yang selalu
tercurahkan kepada Insanul Kamil, Nabi Muhammad SAW. Sebaik-baiknya mahluk
ciptaan Allah yang ada di Alam Semesta ini. Semoga kita semua mendapat
syafaatnya kelak di Yaumil Qiyamah.
Akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini
dengan judul Perkembangan Sains Di Era Islam Kontemporer, kami berharap
makalah ini dapat menamba pengetahuan lebih tentang sejarah perkembangan sains
di dunia bagi pembaca.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu hingga terselesaikannya makalah ini. Dan kami memahami jika makalah ini tentu jauh dari
kesempurnaan maka kritik dan saran sangat kami butuhkan guna memperbaiki karya-
karya kami dilain waktu.
Bandung, 10
Desember 2014
Penulis
|
P
DAFTAR ISI
COVER.................................................................................................................................. I
KATA PENGANTAR.......................................................................................................... II
DAFTAR ISI....................................................................................................................... III
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang........................................................................................................... 1
2.
Rumusan Masalah...................................................................................................... 2
3. Tujuan Masalah.......................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
1. Perkembangan Sains Dunia........................................................................................ 3
2.
Posisi Sains dalam Islam............................................................................................ 8
3.
Perbandingan Sains Islam antara Sains Barat (Non islam)......................................... 9
4. perkembangan sains dalam dunia Islam kontemporer.............................................. 10
5.
Faktor-faktor yang menyebabkan stagnasi sains di dunia islam.............................. 12
BAB III PENUTUP
1.
Simpulan .................................................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 15
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Perkembangan pengetahuan atau sains berawal dari pola pikir manusia
sebagai subyek sekaligus obyeknya. Perkembangan pengetahuan didasari oleh rasa ingin
tahu tentang benda-benda di alam sekitarnya, bulan, bintang, matahari, bahkan
ingin tahu tentang dirinya sendiri (antroposentris). Manusia mulai
bertanya-tanya tentang lealitas kehidupan, untuk memperoleh kepuasan
maka timbul pemikiran mitos atau legenda nenek moyang, yang menganggap semua
yang ada di bumi ini tiba-tiba ada dan yang minciptakan adalah makhluk gaib.
Pemikiran mitos disebabkan oleh
keterbatasan pengindraan, baik langsung maupun dengan alat. kemudian
rasa ingin tahu yang di dasari dengan mitos menggilang karena pengindraan
manusia semakin kuat dan memiliki keinginan untuk membuktikan semua realitas
kehidupan, lahirlah beberapa teori berasan dari pemikiran manusia yang
mendekati kebenaran dan bahkan mungkin benar.
Perkembangan sains atau
pengetahuan mulai berkembang dan mempu
menciptakann beberapa teori. Seperti teori penciptaan bumi (big bang) yang
mampu menjelaskan secara detail penciptaan bumi, toeri terbentuknya galaksi,
teori bentuk bumi, dan beberapa teori filsafat. Islam dan Sains itu tidak ada
dikotomi atau pertentangan. Konflik yang tercatat dalam dokumen sejarah umat
Kristiani dengan lembaga sains tidak memiliki keterkaitan sama sekali dalam
Islam.
Peradaban Islam, khususnya sains
pernah berjaya selama sekitar lima abad (abad ke-8 sampai 12) sehingga menjadi
kiblat dari bangsa lain. Namun, keadaan saat ini justru berbanding ter balik
dengan keadaan tersebut. Kondisi sains dunia Islam saat ini cenderung stagnan
(tetap). Upaya rekronstruksi perlu dilakukan, sebab dalam banyak hal, umat
Islam tidak cukup kritis dengan sejarahnya, terutama dalam kemajuan bidang
sains pada era klasik. Bahkan, sebagian umat Islam beranggapan bahwa dengan
datangnya Islam, maka sains juga berkembang. Pemikiran ini harusnya dirubah,
karena perkembangan sains tidaklah melalui jalan yang mudah, namun terjadi
melaui proses yang rumit dan kompleks, sehingga perlu pembacaan kritis dan
teliti berkaitan dengan fakta sejarah masa lalu. Dari pemaparan diatas penulis mendapatkan judul Perkembangan
Sains Di Era Islam Kontemporer.
2.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana perkembangan sains di dunia?
2. Bagaimana posisi sains dalam islam?
3.
Bagaimana perbandingan
antara sains barat dan sains islam?
4. Bagaimana Kondisi perkembangan sains dalam dunia
Islam kontemporer?
5.
Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan stagnasi sains di dunia islam?
3.
Tujuan Masalah
Tujuan masalah yang
kami dapat adalah:
1.
Mengetahui perkembangan sains
di dunia.
2.
Mengetahui posisi sains dalam islam?
3.
Mengetahui perbandingan antara sains barat dan sains islam?
4.
Mengetahi Kondisi perkembangan sains dalam dunia Islam
kontemporer.
5.
Menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan stagnasi sains di dunia islam?
6.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Perkembangan Sains Dunia.
Dalam literatur Islam, diterangkan
bahwa bapak pengetahuan manusia adalah Nabi Idris AS. Salah satu pengetahuan
dasar yang beliau temukan adalah penutup aurat (pakaian) yang berjahit.
Selanjutnya entah siapa yang mengembangkan pengetahuan seterusnya, sejarah awal tentang
pengetahuan terputus selama berabad-abad. Dan kini umumnya kita menganggap
bahwa awal perkembangan sains adalah berasal dari Yunani kuno.
Tentu saja perkembangan pengetahuan
atau sains berawal dari pola pikir manusia sebagai subyek sekaligus obyeknya.
Berikut beberapa proses perkembangan
pola pikir manusia yang melahirkan banyak karya yang mengagumkan dan sekaligus
membuat manusia harus semakin menasbihkan dan memuji keagungan Allah, juga
harusnya membuat manusia menyadari kelemahannya sebagai makhluq.
1.1
Rasa Ingin Tahu
Ilmu
pengetahuan atau sains bermula dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas
naluri manusia. Manusia mempunyai rasa ingin tahu tentang benda-benda di alam
sekitarnya, bulan, bintang, matahari, bahkan ingin tahu tentang dirinya sendiri
(antroposentris).
Bahkan dari
sebuah rasa ingin tahu ini, membawa seorang anak manusia pada pengetahuan
tentang Tuhan, dan manusia istimewa ini adalah Nabi Ibrahim AS yang telah kita
ketahui kisahnya tentang kegalauan beliau ketika bertanya-tanya
siapa pencipta alam ini. Ketika kemudian secara berkala bulan, bintang, dan
matahari muncul, beliau mengira bahwa merekalah sang pencipta itu. Namun ketika
secara berkala pula bulan, bintang, dan matahari terbenam, rasonalitas Nabi Ibrahim
meyakini bahwa ada dzat lain yang sangat kuasa menerbitkan kemudian membenamkam
bulan, bintang, dan matahari, dan dzat itulah yang pasti menciptakan itu semua.
Rasa ingin tahu
ini merupakan salah satu kelebihan manusia dibanding makhluq lain, meskipun
semua makhluq memiliki rasa ingin tahu. Jika
pada binatang contohnya, rasa ingin tahu mereka hanya bersifat tetap sepanjang
zaman yang didorong oleh insting untuk memperhatikan hidupnya.
Berbeda dengan
manusia yang rasa ingin tahunya tidak hanya didorong oleh insting, namun juga
ada kemampuan berpikir untuk mengembangkan rasa ingin tahunya. Manusia mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu
untuk dikombinasikan dengan yang baru sehingga menjadi sebuah akumulasi pengetahuan
yang kemudian tercipta inovasi-inovasi mengagumkan pada setiap peradaban
manusia. Subhanallah.
1.2
Mitos
Perkembangan
selanjutnya adalah manusia berusaha memenuhi rasa ingin tahunya dengan
bertanya-tanya, kemudian mereka-reka sendiri jawabannya untuk memenuhi
kebutuhan nonfisik atau kebutuhan alam pikirnya.
Jawaban dari
rekaan mereka sendiri ini kemudian memunculkan pengetahuan dan kepercayaan yang
disebut mitos. Dan cerita atau kisah yang berdasarkan mitos adalah
legenda.
Mitos dapat diterima oleh masyarakat pada masa itu karena :
a.
keterbatasan pengetahuan yang disebabkan oleh keterbatasan
pengindraan, baik langsung maupun dengan alat.
b.
keterbatasan penalaran manusia pada masa itu.
c.
karena dengan munculnya mitos dapat memuaskan rasa ingin tahunya.
Namun, dengan
berkembangnya pemikiran manusia, mitos mulai terkikis karena manusia selalu
membutuhkan fakta empiris dan juga mereka telah mampu membuat alat untuk
menopang keterbatasan indra mereka, contohnya teropong.
Meskipun peradaban manusia sudah berubah, masih ada beberapa orang
yang mempercayai mitos, contohnya horoskop, legenda Roro Kidul, dan sebagainya.
Dari masa ke masa kemudian lahirlah
beberapa teori berasal dari pemikiran manusia yang mendekati kebenaran atau
bahkan sudah benar, seperti teori penciptaan bumi, terbentuknya galaksi, bentuk
bumi, beberapa teori filsafat dan sebagainya.
A.
Perkembangan Sains Dunia Barat
Pada
permulaannya, sains di Barat tidak mengalami perkembangan meskipun
menurut sejarah, ilmu sains bermula dari sana. Hal
ini dikarenakan otoritas gereja dalam segala bidang termasuk dalam ilmu
pengetahuan telah membatasi perkembangan ilmu pengetahuan.
Para ilmuwan
tidak berani menentang keputusan gereja karena kosekwensinya sangat besar. Kekuatan
gereja telah banyak menindas dan memberlakukan rakyat dengan kasar sehingga
kemudian agama dianggap tidak praktis , tidak fleksibel, dan penuh dengan
pertentangan dan agama dipandang sebagai penghambat perkembangan dan kemajuan
zaman. Sebagai contoh teori heliosentris dari Nicholaus Copernicus
(1473-1543 SM) tidak segera diumumkan karena bertentangan dengan teori penguasa
saat itu yang berasal dari gereja, yaitu teori geosentris. Bruno
(1548-1600 M), sang pendukung teori Copernicus dianggap kemasukan setan lalu
dibakar hidup-hidup sampai mati karena
keberaniannya mengungkapkan pendapatnya.
Tapi kemudian
dunia Barat mengalami masa kebangkitan dan pencerahan (renaissance) karena
munculnya semangat balas dendam dan motivasi 3G (God, Glory, Gospel)
dengan melakukan penjajahan pada Negara-negara Islam yang memilik peradaban
tinggi, seperti Baghdad dan Andalusia (Spanyol). dari hasil ekspansinya, dunia
Barat mengalami kemajuan pesat dalam berbagai hal terutama bidang Sains melalui
penerjemahan-penerjemahan literatur dari dunia Islam.
B.
Perkembangan Sains Dunia Islam
Sains atau
pengetahuan dalam berbagai bidang dari Islam muncul tentu saja sejak Nabi
Muhammad SAW di utus menjadi membawa risalah kenabian yang menerima wahyu
pertama diperintahkan untuk membaca, “iqra’”. Oleh para ahli Bahasa, kata “iqra” dimaknai tidak hanya
berarti perintah “membaca” secara tekstual, tapi juga dimaknai dengan perintah
Allah untuk “mengamati” , “memperhatikan” , dan “berfikir” Contoh selain itu
adalah informasi Allah melalui Al-Qur’an yang memberitahukan proses terbentuknya
manusia yang dimulai bahkan tidak hanya berasal dari rahim, tapi sejak zaman
manusia berada di alam ruh. Kemudian
contoh lain adalah tentang proses peciptaan dunia yang meskipun demikian
ditafsirkan oleh para ahli dengan persepsi berbeda-beda, teori revolusi dan
rotasi, ilmu perbintangan (falak atau astronomi), dan sebagainya.
Namun demikian,
berbagai ilmu pengetahuan tersebut belum tersusun secara sistematis. Baru
kemudian pada masa dinasti Muawwiyah, beberapa ilmu pengetahuan mulai
dikotak-kotakkan dan dipelajari secara mendalam. Salah satu faktornya adalah “helenisasi”,
penerjemahan literatur-literatur asing terutama filsafat Yunani.
Beberapa ilmu
yang kemudian banyak berhutang pada penemuan Muslim adalah ilmu kimia, seperti
halnya ilmu pengobatan, merupakan salah satu disiplin ilmu yang paling awal
dikembangkan. Khalid bin Muawwiyah merupakan contributor awal penerjemahan
literature-literatur Yunani dan Koptik tentang Kimia, kedokteran, dan
Astrologi.
Periode Dinasti
Abbasiyyah mengalami ketenaran karena munculnya gerakan intelektual, yang
dikenal dengan bangkitnya sejarah pemikiran dan budaya. Kebangkitan ini
sebagian besar disebabkan oleh masuknya berbagai pengaruh asing, sebagian
Indo-Persia, Soriah, Yunani.
Gerakan
intelektual ini ditandai oleh proyek penerjemahan karya-karya berbahasa Persia,
Sansekerta, Yunani, dan Suriah ke Bahasa Arab. Kaum Muslim saat itu memiliki keingintahuan
yang tinggi dan minat belajar yang besar, sehingga dengan segera kaum Mslim
menjadi penerima dan pewaris peradaban bangsa-bangsa yang lebih tua yang mereka
taklukkan atau mereka temui.
Di Suriah, kaum
muslim menyerap peradaban Armaik yang telah dipengaruhi budaya Yunani berupa literatur
filsafat, sepeti karya Aristoteles, karya para komentator neo-Platonis,
tulisan-tulisan kedokteran Galen, dan sebagainya.
Selain itu,
budaya India juga menjadi sumber inspirasi pertama dalam mistisisme, astronomi,
dan matematika. Kebudayaan
Persia pun mempengaruhi perkembangan intelektual dalam bidang kesenian dan
kaligrafi. Minat kaum
Muslim terhadap berbagai pengetahuan ini diilhami oleh hadits Nabi yang membagi
pengetahuan ke dalam dua kelompok : Teologi (tauhid) dan kedokteran (thibbun
Nabi).
Dalam bidang ilmu
Kimia, Islam berkontribusi besar dalam kemajuan ilmu pengetahuan, seperti
membangun apotek pertama, mendirikan sekolah farmasi pertama, dan menghasilkan
buku daftar obat-obatan.
Nama terkenal dalam catatan keilmuan
terutama adalah Al-Razi dan Ibnu Sina. Berikut
beberapa kajian keilmuan yang mengalami kemajuan pada peradaban Islam:
1.
Bidang kedokteran
2.
Filsafat Islam
3.
Kajian astronomi dan matematika
4.
Bidang kimia
5.
Bidang geografi
6.
Bidang historiografi
7.
Bidang teologi
8.
Bidang hukum dan etika
9.
Bidang sastra dan kesenian lain.
Berbeda dengan dunia
Barat yang memisahkan agama dengan sains, kemajuan yang diraih kaum Muslimin
berada dalam naungan Negara yang menerapkan perundang-undangan hukum Islam
secara keseluruhan (integral). Keamanan Negara dan eksistensi
perundang-undangannya dijaga sendiri oleh kaum Muslimin tanpa melibatkan Negara
lain. hubungan luar negeri dengan Negara-negara non-Islam tidak sampai menjual
kedaulatan negaranya, baik militer,
ekonomi, politik, dan budaya.
2. Posisi sains
dalam islam
Hal yang penting untuk dipahami
bahwa Islam dan Sains itu tidak ada dikotomi atau pertentangan. Konflik yang
tercatat dalam dokumen sejarah umat Kristiani dengan lembaga sains tidak
memiliki keterkaitan sama sekali dalam Islam.
Konsep sains Islam masih belum
terjamah oleh sebagian besar ilmuwan dan lingkungan intelektual muslim. Sekalipun demikian , ada sebagian ilmuwan muslim yang mengancam akan
mengislamkan sains modern dengan
mencocokanya dengan Al-Quran. Mereka
melakukan ini dengan menunjukan bahwa Al-Quran
memberi penekanan yang besar pada pencari ilmu pengetahuan, bahkan menghasilkan
bukti statistik yang meyakinkan.
Sebagian ilmuwan muslim mengatakan bahwa sains
Islam itu universal, tidak sempit karena sifat dasar dan polanya yang tidak terjadi perselisian antara wahyu dan akal,
semua yang biasa terjadi disepanjang sejarah antagonisme gereja barat. Nilai-nilai sains dan Islam tidak bisa dipisahkan karena
mereka berasal dari pandangan agama Islam yang universal.
Mengapa kemajuan tersebut dapat
diraih oleh umat islam saat itu? Kita dapat menyimpulkan bahwa faktor yang
membuat umat islam pernah meraih
kemajuan yang besar jawabannya hanyalah ada dalam satu kalimat saja, yaitu
mereka berhasil merealisasikan tujuan Allah swt dengan mewujudkan penghambaan
dan pengabdiannya, baik secara transedental ritual, maupun dengan aktualisasi
mereka lewat keahlian dan ilmu pengetahuan. Sehingga mereka mampu
merealisasikan kehidupan di dunia dan di akhirat.
3.
Perbandingan Antara Sains Islam dan Sains Barat (Non Islam)
3.1
Ukuran Sains Barat
a.
percaya pada rasionalitas
b.
sains untuk sains
c.
satu-satunya metode, cara untuk mengetahui realitas
d.
tidak memihak: seorang ilmuwan harus perduli hanya pada produk Mpengetahuan
baru dan akibat-akibat penggunannya
e.
tidak ada bias validitas pernyataan “sains hanya tegantung pada
bukti penerapannya dan bukan pada ilmuwan yang menjadikannya”
3.2
Ukuran Sains Islam
a.
percaya pada wahyu
b.
sains adalah sarana untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT. Ini
merupakan bentuk
ibadah yang memiliki fungsi spiritual dan social
c.
sintesis:cara yang dominan
meningkatkan kemajuan sains, termasuk sintesis dan social
d.
holistik: sains
adalah sebuah aktifitas yang terlalu rumit yang dibagi kedalam lapisan yang
lebih kuat, ini adalah pemahaman interdisipliner dan holistic
e.
banyak metode berlandaskan akal dan wakyu, objektif dan subjektif,
semuannya sama-sama valid.
Semua capaian umat Islam saat itu mengalir dari semangat yang diberikan oleh Al-Quran
yang mengagungkan Asma Allah dengan mengagumi ciptaaan-Nya. Islam sama sekali
tidak bertentangan dengan penelitian sains. Kecuali jika kebebasan penelitian
sengaja dibelenggu, atas nama ortodoksi resmi, dan para ilmuan tunduk pada
hukuman kurungan dan penyiksaan, maka gugurlah bangunan sains. Dengan
menerapkan sains dalam kerangka etika islam. Ilmuwan muslim
tidak saja telah melestarikan prestasi klasik, tetapi juga menambah data baru yang
orisinal untuk memelihara ilmu pengetahuan.
4.
Kondisi perkembangan sains dalam
dunia Islam kontemporer
Peradaban Islam, khususnya sains
pernah berjaya selama sekitar lima abad (abad ke-8 sampai 12) sehingga menjadi
kiblat dari bangsa lain. Namun, keadaan saat ini justru berbanding ter balik
dengan keadaan tersebut. Kondisi sains dunia Islam saat ini cenderung stagnan
(tetap). Upaya rekronstruksi perlu dilakukan, sebab dalam banyak hal, umat
Islam tidak cukup kritis dengan sejarahnya, terutama dalam kemajuan bidang
sains pada era klasik. Bahkan, sebagian umat Islam beranggapan bahwa dengan
datangnya Islam, maka sains juga berkembang. Pemikiran ini harusnya dirubah,
karena perkembangan sains tidaklah melalui jalan yang mudah, namun terjadi
melaui proses yang rumit dan kompleks, sehingga perlu pembacaan kritis dan
teliti berkaitan dengan fakta sejarah masa lalu.
Kondisi memprihatinkan umat Islam,
yang saat ini terjadi disebabkan dari umat Islam
itu sendiri. Diakui, meskipun awalnya umat Islam adalah perintis pengembangan
ilmu-ilmu empirik, akan tetapi pada periode berikutnya kaum muslim telah
bersikap masa bodoh pada ilmu-ilmu
murni (iptek). Hal ini terjadi karena sifat antipati terhadap kedatangan Barat
ke dalam Islam sejak pramodern hingga
awal abad modern yang
menimbulkan benturan-benturan. Konsekuensinya, tidak mengherankan bila pemikiran-pemikiran Islam
mengalami stagnasi.
Sebagian umat Islam masih menganggap
kebudayaan Barat ialah kebudayaan orang-orang kafir. Pemikiran itu didasari oleh sebuah hadits yang artinya :
“barang siapa mengikuti suatu
kaum, maka ia bagian dari mereka.”
Padahal, apabila kita menilik
sejarah perkembangan ilmu pengetahuan,
berawal dari proses penerjemahan kitab-kitab tentang sains oleh para khalifah.
Ini berarti, menerima kebudayaan barat, bukan berarti kita menerima dan
menelannya bulat-bulat. Tetapi, tentunya itu semua harus diproses
ulang, disaring, dan disesuaikan.
Oleh karena itu, pembaruan pemikiran merupakan suatu keharusan. Hal itu dilihat
dari pengalaman sejarah, kemajuan umat Islam terjadi karena adanya kontak
budaya dan politik dengan bangsa Barat, baik melalui perembesan budaya,
konflik perang atau kolonialisasi.
Pembaruan pemikiran umat Islam, umumnya
dikaitkan dengan adanya kesadaran bahwa kita sedang mengalami kemunduran,
ketertinggalan, dan keterbelakangan dalam menghadapi kemajuan umat manusia,
terutama bila dibandingkan dengan Barat. Selain itu, pembaruan islam muncul
dalam wujud keterpaksaan bangkit karena adanya tekanan pragmatis yang mendesak
dikalangan umat itu sendiri, sehingga menimbulkan konversi pemikiran keagamaan
mereka.
5.
Faktor-faktor yang menyebabkan stagnasi sains di dunia islam
Menurut Toby Huff,
factor internal kelemahan metodologi adalah kurangnya matematisasi, langkanya imajinasi teoritis dan jarangnya
eksperimentasi, di dunia
islam yang terjadi justru kemunduran dan bukan
revolusi sains.
Toby Huff cenderung
menyalahkan iklim sosial-kultural-politik saat ini
yang dianggapnya gagal menumbuhkan semangat universalisme. Disisi
lain, Huff menilai tidak terdapatnya skeptisisme yang terorganisir dan dedikasi
murni turut mempengaruhi perkembangan sains di dunia islam.
Ada juga sebagian klaim yang menghubungkan kemunduran sains dengan sufisme yang muncul seiring kemajuan peradaban Islam dengan
berbagai gerakan moral spiritual yang dipelopori oleh kaum sufi. Intinya adalah
penyucian
jiwa dan pembinaan diri secara lebih intensif dan terencana. Pada
perkembangannya, gerakan-gerakan tersebut mengkristal menjadi tarekat-tarekat yang sebagian tidak mu’tabarah dengan
pengikut yang kebanyakannya orang awam. Popularisasi tasawuf inilah yang
bertanggung jawab melahirkan sufi-sufi palsu yang menumbuhkan sikap irrasional
dikalangan masyarakat. Tidak sedikit dari mereka yang lebih tertarik pada
aspek-aspek mistik supernatural seperti keramat, kesaktian dan sebagainya
ketimbang pada aspek ritual dan moralnya. Obsesi untuk memperoleh hal-hal
tersebut pada gilirannya menyuburkan berbagai bentuk tahayyul dan khurafat. Beberapa akibatnya adalah yang berkembang
bukan sains tapi ilmu sihir, perdukunan, dan aneka pseudo-sains seperti
astrologi, primbon dan perjimatan. Meskipun ini tidak sepenuhnya benar namun juga tidak
salah.
Menurut David
C.Lindberg, ada tiga factor atas kemandekan sains di dunia islam:
1.
Oposisi kaum konservatif
2.
Krisis ekonomi dan politik
3.
Keterasingan dan keterpinggiran
BAB III
PENUTUP
1. Simpulan
Bapak pengetahuan manusia adalah
Nabi Idris AS. Salah satu pengetahuan dasar yang beliau temukan adalah penutup
aurat (pakaian) yang berjahit. sejarah
awal tentang pengetahuan terputus selama berabad-abad. Dan kini umumnya
kita menganggap bahwa awal perkembangan sains adalah berasal dari Yunani kuno.
Dari masa ke masa kemudian lahirlah beberapa teori berasal dari pemikiran
manusia yang mendekati kebenaran atau bahkan sudah benar, seperti teori
penciptaan bumi, terbentuknya galaksi, bentuk bumi, beberapa teori filsafat dan
sebagainya.
Konsep sains
Islam masih belum terjamah oleh sebagian besar ilmuwan dan lingkungan
intelektual muslim. Sekalipun
demikian , ada sebagian ilmuwan muslim yang mengancam akan mengislamkan
sains modern dengan mencocokanya dengan Al-Quran.
Mereka melakukan ini dengan menunjukan bahwa Al-Quran
memberi penekanan yang besar pada pencari ilmu pengetahuan, bahkan menghasilkan
bukti statistik yang meyakinkan.
Kondisi
memprihatinkan umat Islam, yang saat ini terjadi disebabkan dari
umat Islam itu sendiri. Diakui, meskipun awalnya umat Islam adalah perintis
pengembangan ilmu-ilmu empirik, akan tetapi pada periode berikutnya kaum muslim
telah bersikap masa bodoh pada ilmu-ilmu
murni (iptek). kurangnya
matematisasi, langkanya imajinasi teoritis dan jarangnya eksperimentasi, di dunia
islam yang menjadikan
sains islam staknan bahkan kemunduran.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Ali Yusuf, 2006. Islam Dan Sains Modern (sentuhan Islam
terhadap berbagai
disiplin Ilmu), PUSTAKA SETIA.
http//:muqowimjogja.blogspot.com
Mas’ud, Ibnu dan Joko Paryono, 1998. Ilmu Alamia Dasar, PUSTAKA SETIA.
Rosyad, chumaidi
Syarif , 2000.
wacana theologi Islam kontemporer. Pt.
Tiara Wacana Yogya.
Yasin, cecep lukman, dan Dedi Slamet Riyadi
,2013. History Of The Arabs, PT
SERAMBI ILMU SEMESTA.

Komentar
Posting Komentar